Menelusuri Jejak Sejarah IKPM Gontor: Dari Pertemuan Yogyakarta hingga Menjadi Penjaga Wakaf Umat
Jumat, 15 Mei 2026 | 08.16 GMT+7
IKPM Jogja
Tim Redaksi

Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Darussalam Gontor bukan sekadar organisasi ikatan alumni biasa. Lahirnya IKPM merupakan manifestasi dari kuatnya ikatan batin antara kiai dan santrinya, serta menjadi tonggak penting dalam sejarah penyerahan estafet kepemimpinan Gontor kepada umat Islam. Bagaimana wujud awal pergerakan ini bermula?
Gagasan Awal di Tengah Kongres Muslimin Indonesia (1949)
Kisah ini berawal pada tahun 1949 saat penyelenggaraan Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta. KH. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Gontor, turut hadir dalam perhelatan tersebut. Perjalanan menuju Yogyakarta tidaklah mudah; demi alasan keamanan, beliau harus menempuh rute memutar melewati Surabaya menggunakan kereta uap, didampingi oleh seorang utusan bernama Mukari.
Di lokasi kongres, KH. Imam Zarkasyi berjumpa dengan berbagai tokoh yang ternyata adalah alumni Gontor, salah satunya H. Idham Cholid yang memimpin rombongan dari Kalimantan. Banyaknya alumni yang menjadi perwakilan daerah memunculkan suasana kekeluargaan yang sangat kental.
Melihat eratnya keakraban dan rasa hormat para alumni kepada gurunya meski telah lama berpisah, Mukari pun terenyuh. Ia menyampaikan keyakinannya kepada Trimurti tersebut bahwa cita-cita pondok akan abadi dan memiliki masa depan yang gilang-gemilang. Momen emosional inilah yang mematangkan gagasan KH. Imam Zarkasyi untuk melembagakan ukhuwah Islamiyah antar alumni yang sebenarnya sudah diinisiasi sejak era Tarbiyatul Athfal.
Puncaknya, sebelum kongres berakhir, para alumni Gontor mengadakan pertemuan khusus di kediaman Pak Dukhan yang berlokasi di daerah Ngasem, Yogyakarta. Tepat pada 17 Desember 1949, kesepakatan historis terwujud: organisasi Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) resmi dibentuk untuk merawat tali silaturahmi kebatinan antara pondok dan alumninya.
Kongres Pertama dan Momen Deklarasi Wakaf (1951)
Dua tahun berselang, fondasi IKPM semakin diperkuat. Melalui Musyawarah Besar (Mubes) atau Kongres I yang diselenggarakan di Gontor pada 31 Oktober 1951, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) IKPM resmi disahkan.
Momen ini terasa sangat istimewa karena bertepatan dengan perayaan Seperempat Abad (25 Tahun) Pondok Modern Darussalam Gontor (27 Oktober - 4 November 1951). Di hadapan para hadirin, KH. Ahmad Sahal menyampaikan sebuah amanat monumental: Pondok Modern Gontor tidak lagi menjadi milik pribadi keluarga pendiri, melainkan diwakafkan kepada umat Islam. Tanggung jawab besar atas kelangsungan dan kemajuan pondok kini dititipkan di pundak para alumninya melalui wadah IKPM.
Pada Kongres I ini, susunan Pengurus Pusat (PP) IKPM pertama berhasil dibentuk dengan rincian:
Ketua: Ali Murtadho & Suroso BHS
Sekretaris: Ma’shum
Bendahara: Subani
Anggota Pembantu: Shoimun, Ihsanuddin, Samuri, Ghozali Anwar, Kafrawi, Suadi, Idham Kholid, dan Sholihin.
Lahirnya Badan Wakaf dan Visi Universitas Darussalam (1958)
Realisasi dari pidato penyerahan wakaf pada tahun 1951 baru benar-benar diwujudkan secara kelembagaan pada Kongres II IKPM. Kongres ini dihelat pada 14 Oktober 1958, beriringan dengan Peringatan Empat Windu (32 Tahun) Pondok Modern.
Tepat pada 12 Oktober 1958, kepemilikan pondok secara resmi diserahkan kepada IKPM yang diwakili oleh 15 orang alumni. Kelima belas tokoh inilah yang kemudian dikenal sebagai formasi awal Badan Wakaf Pondok Modern. Piagam penyerahan wakaf tersebut diterima oleh susunan pengurus Badan Wakaf:
Ketua Umum/I/II: K.H. Idham Kholid (Jakarta), Aly Murtadlo (Pacitan), Shoiman BHM (Gontor).
Sekretaris I/II: Ghozali Anwar (Ponorogo), Abdullah Mahmud (Madiun).
Bendahara I/II: Al-Muhammady (Yogyakarta), Hadiyin Rifa’I (Jakarta).
Anggota: Letkol Hasan Basri, Kapten Irchamni, H. Mahfudz Thohir, Aly Saifullah, Abdullah Syukri.
Dalam prosesi sakral tersebut, KH. Ahmad Sahal kembali menanamkan visi besarnya. Beliau berpesan agar pondok yang "kecil" ini terus dibesarkan hingga kelak mampu bertransformasi menjadi Universitas Darussalam—sebuah perguruan tinggi yang memadukan ilmu agama, bahasa Arab, dan pengetahuan umum.
Sejalan dengan dinamika tersebut, Kongres II juga merombak kepengurusan PP-IKPM untuk menyesuaikan dengan tantangan zaman. Kepengurusan baru ini dinahkodai oleh:
Ketua Umum: Aly Murtadho
Ketua I & II: Ghozali Anwar & M. Syamsuddin P.
Sekretaris I, II, III: Abdullah Mahmud, Hasanuddin Fadli, Muchlison Sj.
Bendahara I & II: H. Mawardi & H. Mahfudz Thohir.
Untuk memperluas jangkauan pergerakan, dibentuk pula struktur pembantu PP-IKPM di berbagai daerah strategis, mulai dari Jakarta (Kapten Mustahal, dkk), Yogyakarta (M. Sholihin, dkk), Surabaya (Abdurrahmim Ali, dkk), hingga menjangkau Sumatera, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara. Jaringan inilah yang menjadi cikal bakal kokohnya eksistensi IKPM Gontor di seluruh pelosok negeri hingga hari ini.
Konten Lain
Khutbah Idul Adha: Menemukan Kembali Makna Cinta dan Ketaatan di Hari Raya Idul Adha

Qurban IKPM Jogja 1447 H: Rajut Ukhuwah dan Berbagi di PPTQ Ibnu Sina
Penyembelihan hewan qurban IKPM Jogja pada Idul Adha 1447 H di PPTQ Ibnu Sina berjalan khidmat, wujudkan ukhuwah dan semangat berbagi alumni Gontor

Gelar Halal Bihalal 2026, IKPM Jogja Perkuat Ukhuwah, Ekonomi Santri, dan Luncurkan Platform Digital
Ratusan alumni hadiri Halal Bihalal IKPM Jogja 2026. Acara dimeriahkan tausiyah Ustadz Bachtiar Nasir, Pasar Santri, dan rilis situs ikpmjogja.com.

Merajut Ukhuwah di Halal Bihalal IKPM Jogja: Dari Gagasan Kepemimpinan Dunia hingga Santap Nasi Biryani

Geliat Ekonomi Santri di Halal Bihalal IKPM Jogja: PADASAN Jadi Etalase Bisnis Alumni

